“Persahabatan kerap berakhir dengan cinta; tapi cinta tak pernah berakhir dengan persahabatan.” Harap jangan tercengang membaca ungkapan di atas, karena saya hanya mengutipnya dari Charles Caleb Colton (1780-1832). Ungkapan itu pun -lagi-lagi- jangan dikira saya kutip langsung dari buku Colton. Tidak. Saya justru tahu kutipan itu dari koran Tempo yang beberapa waktu lalu sempat menghiasi layar media cetak kita.
Ungkapan yang cukup menarik itu, masih banyak yang mengimani dan mempraktekkannya (entah mungkin) tanpa sadar. Kalau Anda sesekali mencermati media kita baik itu cetak maupun elektronik betapa tesis yang sudah bertahun-tahun itu mengilhami kesadaran kita untuk membenarkannya.
Telivsi, misalnya, hampir setip hari selalu menyuguhkan infotainment seputar percintaan para bintang yang nyaris membuat kita mengelus-gelus dada. Betapa tidak, trendy cerai dan gonta-ganti pasangan sungguh menggurita di hadapan kita.
Mungkin itulah yang disebut Erich Fromm dalam The Art of Loving dengan cinta erotis. Cinta yang hanya sebentuk perasan menyenangkan yang dialami secara kebetulan, sesuatu yang membuat kita tecebur ke dalamnya jika sedang beruntung. Sebuah cinta yang mendambakan suatu peleburan secara total, penyatuan dengan pribadi lain.
Pada hakekatnya, cinta erotis bersifat eksklusif, semu, unbelievable dan tidak universal. Pertama-tama, cinta erotis sering dicampur-adukkan dengan pengalaman eksplosif jatuh cinta; suatu keruntuhan tiba-tiba atas tembok pemisah yang ada di antara dua orang yang notabene masih saling merasa asing satu sama lain.
Jadi, hubungan seksual merupakan klimaks dari sebuah cinta. Karena itu, begitu dinding pemisah yang diekpresikan melalui kemesraan dan keintiman itu sudah habis tak ada lagi sesuatu yang new, perpisahan tak dapat dielakkan bahkan sulit dua hamba itu dipertemukan kembali.
Realitas tersebut, pada giliranya membawa kita pada debat lama: apakah cinta itu seni? Sehingga, cinta memerlukan pengatahuan dan perjuangan. Ataukah cinta itu hanya sebentuk perasan yang puncaknya adalah hubungan intim, yang tentu nantinya perpisahan tak ayal akan mencuat?
Sebagaimana dalam beberapa buku, mulai dari The Fifth Mountain, The Devil And Miss Prym, The Alchemist, hingga By The River Piedra I Sat Down And Wept, buku berjudul The Zahir, karya Paulo Coelho ini juga ditulis dengan mendasarkan diri pada premis yang pertama, yakni bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan.
Novel karya penerima banyak penghargaan internasioal yang bergengsi, di antaranya Crystal Award dari World Economic Forum dan Legion d`Honneur dari Prancis ini mengisahkan seorang suami ditinggalkan istrinya tanpa alasan, tanpa jejak. Kepergiannya yang tak kunjung datang menimbulkan tanda tanya besar yang makin lama makin menggerogoti hati dan pikiran.
Berbagai kenangan yang ditinggalkan sang istri selalu menghantui dan tak terhapuskan, hingga menjadi obsesi yang nyaris membawa sang suami pada kegilaan. Kegilaan di sisni bukanlah sesuatu yang lumrah kita pahami! Sebuah kegilaan yang pada derajat tertentu membuat sang suami menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dalam perkawinan mereka, hingga terjadinya perpisahan itu.
Perjuangan sang suami tak berhenti di situ. Paulo Coelho, kelahiran Brazil, melalui buku terbarunya ini menghadirkan sebuah penelusuran jejak-jejak sang istri yang nyaris membuat sang suami harus hati-hati. Sebuah penelusuran dan pencarian yang membawa sang suami harus keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya. Sesuatu yang sama sekali asing.
Meskipun The Zahir, begitu sang istri itu disebutnya, tak kunjung menghampirinya, penelusuran yang serius itu pada akhirnya membukakan hati sang suami tentang makna cinta dan kekuatan takdir. Sebuah cinta yang tak terbatas pada keterpaduan dua hamba dalam sebuah ruang tanpa batas. Tapi, cinta yang mengatasi dan melampaui ruang dan waktu. Cinta yang harus ditelusuri meskipun harus berhadapan dengan kenyataan takdir, perpisahan.
Membaca novel ini kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa cinta adalah kekuatan aktif di dalam diri manusia yang sanggup mendobrak (baca: mengatasi) keterasingan (alienasi) dan keterpisahan.
Itulah yang disebut sebagai cinta produksif. Keproduktifan cinta itu disosialisasikan dengan kekreatifan, yang berarti bahwa manusia mengalami dirinya sebagai pengijawantahan kekuatan dan sebagai aktor, bahwa orang itu merasakan dirinya satu dengan kekuatannya dan pada saat yang sama kekuatan itu tidak disembunyikan atau dialienasikan dari dirinya (Fromm, 1957). Dengan cinta produktif tercipta sebuah modus “menjadi”. Sebuah perhelatan akbar bertajuk cinta yang membutuhkan kemandirian, kebebasan, dan penalaran yang kritis.
Hal yang menarik dari novel ini, selain deretan kata yang lugas, bernas, tercerna nan memukau membuat kita tak lelah menelusuri apa yang disebut sebagai “legenda pribadi”, juga kita dituntut untuk memahami cinta tak sekedar hubungan penuh nikmat, tapi sebagai sebuah kehidupan secara totalitas penuh liku-liku yang harus ditelusuri secara terus menerus sampai detak jantung penghabisan meskipun takdir berkata lain. Selamat menjelajah.
Judul Buku : The Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Januari 2006
Tebal : 440 halaman
Jawa Pos, Minggu 12 Maret 2006
Ungkapan yang cukup menarik itu, masih banyak yang mengimani dan mempraktekkannya (entah mungkin) tanpa sadar. Kalau Anda sesekali mencermati media kita baik itu cetak maupun elektronik betapa tesis yang sudah bertahun-tahun itu mengilhami kesadaran kita untuk membenarkannya.
Telivsi, misalnya, hampir setip hari selalu menyuguhkan infotainment seputar percintaan para bintang yang nyaris membuat kita mengelus-gelus dada. Betapa tidak, trendy cerai dan gonta-ganti pasangan sungguh menggurita di hadapan kita.
Mungkin itulah yang disebut Erich Fromm dalam The Art of Loving dengan cinta erotis. Cinta yang hanya sebentuk perasan menyenangkan yang dialami secara kebetulan, sesuatu yang membuat kita tecebur ke dalamnya jika sedang beruntung. Sebuah cinta yang mendambakan suatu peleburan secara total, penyatuan dengan pribadi lain.
Pada hakekatnya, cinta erotis bersifat eksklusif, semu, unbelievable dan tidak universal. Pertama-tama, cinta erotis sering dicampur-adukkan dengan pengalaman eksplosif jatuh cinta; suatu keruntuhan tiba-tiba atas tembok pemisah yang ada di antara dua orang yang notabene masih saling merasa asing satu sama lain.
Jadi, hubungan seksual merupakan klimaks dari sebuah cinta. Karena itu, begitu dinding pemisah yang diekpresikan melalui kemesraan dan keintiman itu sudah habis tak ada lagi sesuatu yang new, perpisahan tak dapat dielakkan bahkan sulit dua hamba itu dipertemukan kembali.
Realitas tersebut, pada giliranya membawa kita pada debat lama: apakah cinta itu seni? Sehingga, cinta memerlukan pengatahuan dan perjuangan. Ataukah cinta itu hanya sebentuk perasan yang puncaknya adalah hubungan intim, yang tentu nantinya perpisahan tak ayal akan mencuat?
Sebagaimana dalam beberapa buku, mulai dari The Fifth Mountain, The Devil And Miss Prym, The Alchemist, hingga By The River Piedra I Sat Down And Wept, buku berjudul The Zahir, karya Paulo Coelho ini juga ditulis dengan mendasarkan diri pada premis yang pertama, yakni bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan.
Novel karya penerima banyak penghargaan internasioal yang bergengsi, di antaranya Crystal Award dari World Economic Forum dan Legion d`Honneur dari Prancis ini mengisahkan seorang suami ditinggalkan istrinya tanpa alasan, tanpa jejak. Kepergiannya yang tak kunjung datang menimbulkan tanda tanya besar yang makin lama makin menggerogoti hati dan pikiran.
Berbagai kenangan yang ditinggalkan sang istri selalu menghantui dan tak terhapuskan, hingga menjadi obsesi yang nyaris membawa sang suami pada kegilaan. Kegilaan di sisni bukanlah sesuatu yang lumrah kita pahami! Sebuah kegilaan yang pada derajat tertentu membuat sang suami menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dalam perkawinan mereka, hingga terjadinya perpisahan itu.
Perjuangan sang suami tak berhenti di situ. Paulo Coelho, kelahiran Brazil, melalui buku terbarunya ini menghadirkan sebuah penelusuran jejak-jejak sang istri yang nyaris membuat sang suami harus hati-hati. Sebuah penelusuran dan pencarian yang membawa sang suami harus keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya. Sesuatu yang sama sekali asing.
Meskipun The Zahir, begitu sang istri itu disebutnya, tak kunjung menghampirinya, penelusuran yang serius itu pada akhirnya membukakan hati sang suami tentang makna cinta dan kekuatan takdir. Sebuah cinta yang tak terbatas pada keterpaduan dua hamba dalam sebuah ruang tanpa batas. Tapi, cinta yang mengatasi dan melampaui ruang dan waktu. Cinta yang harus ditelusuri meskipun harus berhadapan dengan kenyataan takdir, perpisahan.
Membaca novel ini kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa cinta adalah kekuatan aktif di dalam diri manusia yang sanggup mendobrak (baca: mengatasi) keterasingan (alienasi) dan keterpisahan.
Itulah yang disebut sebagai cinta produksif. Keproduktifan cinta itu disosialisasikan dengan kekreatifan, yang berarti bahwa manusia mengalami dirinya sebagai pengijawantahan kekuatan dan sebagai aktor, bahwa orang itu merasakan dirinya satu dengan kekuatannya dan pada saat yang sama kekuatan itu tidak disembunyikan atau dialienasikan dari dirinya (Fromm, 1957). Dengan cinta produktif tercipta sebuah modus “menjadi”. Sebuah perhelatan akbar bertajuk cinta yang membutuhkan kemandirian, kebebasan, dan penalaran yang kritis.Hal yang menarik dari novel ini, selain deretan kata yang lugas, bernas, tercerna nan memukau membuat kita tak lelah menelusuri apa yang disebut sebagai “legenda pribadi”, juga kita dituntut untuk memahami cinta tak sekedar hubungan penuh nikmat, tapi sebagai sebuah kehidupan secara totalitas penuh liku-liku yang harus ditelusuri secara terus menerus sampai detak jantung penghabisan meskipun takdir berkata lain. Selamat menjelajah.
Judul Buku : The Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Januari 2006
Tebal : 440 halaman
Jawa Pos, Minggu 12 Maret 2006
Label: Mantiqul Kutub
0 Comment:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)